Nasionalisme

Nasionalisme
Anak-anak Indonesia

Sabtu, 23 Januari 2010

Berdamai Dengan Cinta

Setelah mengetahui kondisi perasaan kita yang sebenarnya, yang kita lakukan adalah menerima diri kita sendiri apa adanya. Mengakui ketakutan kita. Menyadari bahwa kita membutuhkan perasaan untuk mencintai dan dicintai.
Mencintai diri sendiri. Cinta adalah sebuah keinginan untuk memperluas jangkauan diri kita demi perkembangan spiritual diri kita dan orang lain. Cinta adalah sebuah tindakan atas keinginan kita. Cinta adalah sebuah keputusan. Saya dapat memilih untuk mencintai diri sendiri, tanpa mempedulikan masa lalu dan tanpa mempedulikan bagaimana saya menganggap diri saya.

Mencintai diri sendiri tanpa syarat akan membawa kita pada penerimaan diri tanpa syarat. Kita melakukannya dengan bebas, karena itu adalah pilihan kita. Cinta akan menciptakan kesatuan. Penerimaan diri secara total ini akan menciptakan pengampunan yang menyatukan. Kita menjadi satu dengan diri kita. Kita tidak terpisah-pisah lagi, sehingga kita mempunyai kekuatan yang penuh. Tidak terbagi-bagi lagi. Memilih untuk mencintai diri adalah sangat mungkin, bahkan jika kita memiliki perasaan yang negatif terhadap diri sendiri. Dengan memutuskan untuk mencintai diri sendiri, nilai dan kepercayaan diri akan meningkat.

Jika kita memutuskan untuk mencintai diri sendiri, kita akan menyediakan waktu dan perhatian bagi diri sendiri. Menyediakan waktu untuk melakukan hobby, berlibur. Menyediakan waktu untuk menjaga kesehatan. Waktu untuk berolahraga. Dan juga menyediakan waktu dimana Anda tidak harus melakukan apapun dan tidak perlu pergi kemanapun. Menyediakan waktu untuk benar-benar menikmati kebersamaan dengan diri sendiri.

Memberi perhatian pada diri sendiri dengan mendengarkan apa yang terjadi pada diri sendiri. Mendengarkan diri kita dengan memonitor perasaan, keinginan dan kebutuhan kita. Hal ini perlu dilakukan secara sadar. Bukan hanya mengetahui bahwa kita sedang merasa senang atau sedih, tetapi kita tidak mengetahui penyebabnya. Mungkin hal ini menuntut kita untuk mempelajari teknik-teknik menyelami perasaan kita. Mungkin dengan mengikuti kegiatan mediatasi atau yoga. Atau dengan membicarakan perasaan, keinginan dan kebutuhan kita dengan sahabat atau keluarga, untuk mendapatkan umpan balik yang berguna bagi diri kita.

Saat penerimaan diri kita telah terjadi secara total –tanpa syarat-, maka mampu membingkai ulang kegagalan kita. Ini berarti mengubah cara pandang kita. Melihat kegagalan hubungan kita pada masa lalu dengan sudut pandang yang baru. Dengan defenisi cinta yang baru. Defenisi yang akan menumbuhkan diri sendiri dan orang lain. Dengan bingkai yang baru, akan mengubah makna kegagalan itu pada diri kita. Yang akan menampilkan arti bahwa kegagalan itu bukan sebagai bencana, melainkan sebagai komponen hidup yang alamiah dan berharga. Kegagalan yang akan kita jadikan sebagai batu pijakan menuju langkah selanjutnya.

McKay dan Fanning dalam buku Self Esteem menuliskan, “Membingkai kegagalan sebagai umpan balik yang diperlukan dalam proses pembelajaran, membebaskan Anda untuk rileks dan memfokuskan diri pada penguasaan yang bertahap pada tugas yang baru. Kegagalan adalah informasi mengenai apa yang berhasil dan apa yang tidak. Hal itu tidak ada kaitannya dengan harga diri dan inteligensi. Kegagalan hanyalah langkah menuju sasaran.”

Sebagai langkah selanjutnya adalah melangkah keluar dari diri sendiri. Kita sudah menerima diri kita secara total. Kita sudah mengubah cara pandang kita tentang kegagalan hubungan kita. Kita telah berdamai dengan cinta kita sendiri. Kini kita siap untuk berekspansi. Memperluas jangkauan diri kita. Kita siap untuk membuka diri kita kembali terhadap suatu hubungan yang baru. Kini saatnya berdamai dengan cinta dari orang lain. Kita perlu mengaktualisasikan cinta yang sudah kita miliki sehingga cinta itu menjadi sebuah kenyataan bagi orang lain. Berdamai dengan cinta berarti memberikan kesempatan, waktu, ruang di hati kita kepada sang cinta. Membiarkan tubuh, pikiran, hati dan jiwa kita untuk mengenal dan merasakan cinta yang datang. Dan sebaliknya membiarkan cinta itu untuk mengenal diri kita lebih dalam lagi. Ini perlu kita lakukan karena cinta yang kita rasakan dan miliki, mungkin berbeda bentuk, rasa, dan warna dengan cinta yang kita terima. Mereka perlu waktu untuk saling memahami. Perlu waktu untuk menjelaskan perbedaan yang ada.

Ketika cinta yang kita miliki dan cinta yang kita terima, telah mempunyai pemahaman yang sama tentang tujuan yang ingin dicapai bersama-sama, maka inilah salah satu kekuatan cinta yang akan kita gunakan bersama dalam menjalani hubungan yang saling membangun. Menciptakan sebuah cinta sejati yang akan bertumbuh dalam suatu hubungan.

Cinta sejati itu telah menunggu Anda. Dia ada untuk Anda. Anda hanya perlu memberinya kesempatan untuk mengenal Anda lebih jauh. Berikan kesempatan kepada cinta sejati untuk memasuki diri Anda.

Catatan: saat Anda membaca alinea terakhir, dan Anda teringat dengan seseorang, hati-hati! Mungkin Anda berharap, dialah cinta sejati Anda. Mungkin benar, dialah cinta sejati Anda.